MAHARATINEWS, Palangka Raya – Pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo terkait kebijakan sekolah di tengah kabut asap menjadi sorotan di media sosial. Potongan video pernyataannya beredar di Facebook dan memicu perdebatan mengenai prioritas keselamatan siswa saat kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam video yang diunggah salah satu akun Facebook berinisial YSK, Senin (31/8/2026), Reza terdengar membahas dampak apabila sekolah diliburkan ketika kabut asap memburuk.
“Ketika sekolah libur karena asap ini berakibat pada dapur-dapur MBG, kantin-kantin mati dan juga anak-anak yang harusnya di rumah malah ke kafe-kafe lalu buat masalah,” demikian pernyataan yang terdengar dalam video tersebut.
Pernyataan itu kemudian menuai kritik dari pengunggah. Ia mempertanyakan alasan anak-anak dianggap akan memilih keluar rumah ketika kondisi asap sedang parah.
Dalam video tersebut, Reza juga menyampaikan bahwa penghentian kegiatan sekolah dapat menimbulkan persoalan lain, termasuk aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), kantin sekolah dan pengawasan terhadap siswa.
“Kita mengerti Bapak Ibu ya. Bapak Ibu saya harap punya kebijaksanaan juga. Dapur MBG mati, Bu. Kantin-kantin mati, Bu,” ujar Reza.
Ia kemudian menyinggung kemungkinan aktivitas siswa apabila berada di rumah.
“Habis itu, belum lagi dampak ketika anak-anak dipulangkan. Mereka yang harusnya di rumah, mereka ke kafe-kafe. Buat keributan, buat masalah. Nanti kita yang pusing, Bu,” katanya.
Reza menyampaikan pihaknya akan menyiapkan surat edaran terkait penyesuaian waktu pembelajaran. Salah satu opsi yang disampaikan adalah mengubah jam masuk sekolah menjadi pukul 08.00 WIB dengan penyesuaian durasi setiap jam pelajaran.
Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian publik, terutama karena muncul ketika kabut asap karhutla tengah menjadi persoalan di sejumlah wilayah Kalteng.
Di media sosial, perdebatan berkembang pada satu pertanyaan utama: ketika asap memburuk, mana yang harus ditempatkan paling depan—keselamatan dan kesehatan anak atau keberlangsungan aktivitas sekolah dan dapur MBG?
Hingga berita ini ditulis, pernyataan tersebut masih menjadi bahan perbincangan publik di media sosial.





