Prof Pangeran Syarif Abdurrahman: Saya Sarankan Gubernur Kalteng Membuat Program Khusus 1.000 Beasiswa S2 dan S3 per Tahun untuk Lompatan Kualitas SDM

Prof Pangeran Syarif Abdurrahman: Saya Sarankan Gubernur Kalteng Membuat Program Khusus 1.000 Beasiswa S2 dan S3 per Tahun untuk Lompatan Kualitas SDM
Foto. Tokoh nasional dari Kalimantan Tengah, Prof. Dr. Habib Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim

MAHARATINEWS, Jakarta – Tokoh nasional asal Kalimantan Tengah, Prof. Dr. Habib Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim, menyarankan agar Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran meluncurkan program khusus 1.000 kuota beasiswa pendidikan pascasarjana jenjang magister (S2) dan doktoral (S3) setiap tahun.

Menurut Habib Pangeran, langkah tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus menyiapkan tenaga ahli yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.

“Saya sarankan Gubernur Kalteng membuat program khusus 1.000 kuota beasiswa S2 dan Program Doktoral/S3 per tahun untuk lompatan kualitas SDM,” ujar Habib Pangeran.

Ia menilai, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan jumlah lulusan sarjana. Kalimantan Tengah juga membutuhkan lebih banyak tenaga ahli, peneliti, akademisi, dan perumus kebijakan yang memiliki kemampuan mendalam di bidang masing-masing.

### Perluas Beasiswa hingga Jenjang Pascasarjana

Selama ini, program pendidikan pemerintah daerah seperti Satu Rumah Satu Sarjana dan Kuliah Gratis lebih berorientasi pada perluasan akses pendidikan jenjang sarjana. Karena itu, menurutnya, perlu ada kebijakan lanjutan yang memberi perhatian lebih besar terhadap pendidikan pascasarjana.

Habib Pangeran berpandangan, kuota 1.000 penerima beasiswa S2 dan S3 setiap tahun dapat memperkuat kapasitas putra-putri daerah di berbagai sektor strategis. Kebutuhan tersebut mencakup pertanian modern, pengelolaan lahan gambut, lingkungan hidup, mitigasi kebakaran hutan dan lahan, kesehatan, pendidikan, hukum, hingga perencanaan wilayah.

“Daerah harus mulai menyiapkan lebih banyak SDM dengan kualifikasi magister dan doktor. Kita membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga menghasilkan penelitian, inovasi, dan solusi bagi persoalan pembangunan Kalimantan Tengah,” demikian gagasan yang disampaikan Habib Pangeran.

### Dorong Riset dan Kualitas Perguruan Tinggi

Ia juga melihat program tersebut berpeluang memperkuat perguruan tinggi di Kalimantan Tengah. Peningkatan jumlah dosen dan tenaga akademik berkualifikasi doktor diharapkan dapat mendorong pengembangan riset, meningkatkan kapasitas pengajaran, serta mendukung peningkatan mutu dan akreditasi perguruan tinggi.

Menurutnya, keberadaan lebih banyak lulusan S2 dan S3 akan memperluas kemampuan daerah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan menyelesaikan persoalan pembangunan berdasarkan kajian ilmiah.

Selain akademisi, program tersebut juga dapat membuka kesempatan bagi tenaga profesional dan aparatur sipil negara (ASN) untuk meningkatkan kompetensi. Dengan kapasitas pendidikan yang lebih tinggi, mereka diharapkan mampu memperkuat kualitas pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan.

### Seleksi Ketat dan Wajib Mengabdi ke Daerah

Meski demikian, Habib Pangeran menekankan bahwa perluasan beasiswa harus disertai tata kelola yang ketat. Pemerintah perlu menetapkan bidang studi prioritas berdasarkan kebutuhan daerah, memastikan kualitas perguruan tinggi tujuan, serta menerapkan seleksi penerima secara transparan dan akuntabel.

Bidang yang menjadi prioritas dapat mencakup kedokteran spesialis, pertanian modern, hukum lingkungan, teknik, perencanaan wilayah, serta disiplin ilmu lain yang masih membutuhkan tenaga ahli di Kalimantan Tengah.

Penerima beasiswa juga perlu memiliki komitmen untuk kembali mengabdi dan berkontribusi bagi pembangunan daerah setelah menyelesaikan pendidikan. Skema ikatan pengabdian dapat menjadi salah satu instrumen agar investasi pendidikan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pemerintah juga perlu menghitung kebutuhan anggaran secara cermat, mulai dari biaya pendidikan, durasi studi, hingga keberlanjutan pembiayaan setiap angkatan. Dengan demikian, program tidak hanya besar dari sisi kuota, tetapi juga terukur dari sisi hasil dan pertanggungjawaban.

Habib Pangeran menilai, hasil program tersebut memang tidak dapat dinikmati dalam waktu singkat. Namun, dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, para lulusan S2 dan S3 diharapkan dapat mengisi kebutuhan tenaga ahli, memperkuat lembaga pendidikan, mengembangkan riset, dan terlibat dalam perumusan kebijakan pembangunan.

Gagasan 1.000 beasiswa pascasarjana ini diarahkan bukan sekadar memperbesar angka penerima bantuan pendidikan, melainkan membangun fondasi SDM Kalimantan Tengah yang lebih kuat untuk menghadapi persaingan dan tantangan pembangunan di masa depan.

Penulis: perdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *