MAHARATINEWS, Palangka Raya – Kenaikan harga kebutuhan masyarakat di Kalimantan Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Hingga Oktober 2026, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 5,19 persen. Bahkan, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sudah menyentuh 3,91 persen, melampaui batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga, menyebut perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian serius. Pasalnya, tekanan harga terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Ruang Vicon BPS Provinsi Kalteng, Senin (2/11/2026) siang, Toto mengingatkan bahwa capaian inflasi tahun kalender tersebut belum mencakup dua bulan terakhir tahun ini.
“Namun, sampai dengan bulan Oktober sudah mencapai 3,91 persen. Ini warning ya sebenarnya,” kata Toto.
Ia menjelaskan, sasaran inflasi yang terkendali berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Artinya, batas atas sasaran tersebut sebesar 3,5 persen, sedangkan batas bawahnya 1,5 persen.
Dengan inflasi tahun kalender yang sudah mencapai 3,91 persen, tekanan harga di Kalimantan Tengah telah melewati batas atas sasaran tersebut, sementara November dan Desember masih berpotensi memberikan tambahan tekanan.
Berdasarkan catatan BPS, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026 mencapai 0,68 persen dibandingkan September 2026. Dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau, tujuh kelompok mengalami inflasi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,62 persen. Sejumlah komoditas yang mendorong kenaikan tersebut antara lain daging ayam ras dengan andil 0,15 persen, ikan nila 0,08 persen, ikan gabus 0,07 persen, cabai rawit 0,04 persen, dan kacang panjang 0,03 persen.
Toto mengungkapkan, kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut tidak terlepas dari dampak kemarau panjang yang turut memengaruhi produksi dan pasokan pangan.
“Kemarau panjang juga terus menghantui kita semua. Tidak cuma di Kalimantan Tengah, tetapi juga di beberapa provinsi yang tentu akan memberikan dampak turunnya produktivitas berbagai komoditas,” jelasnya.
Ia menyebut produksi tanaman hortikultura seperti cabai rawit dan kacang panjang ikut terdampak. Pasokan ikan juga mengalami tekanan akibat berkurangnya volume air ketika musim kemarau.
Selain itu, kenaikan harga pakan ternak turut mendorong harga daging ayam ras dan ikan hasil budidaya. Produktivitas ayam juga terganggu akibat cuaca panas, kabut asap, serta gangguan pasokan listrik.
Menurut Toto, kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak terhadap kelancaran distribusi barang. Sejumlah jalur transportasi menjadi lebih panjang karena kendaraan harus mengambil rute alternatif. Aktivitas penerbangan juga sempat terganggu akibat terbatasnya jarak pandang.
“Supply chain-nya mulai terganggu sedikit. Harusnya bisa short, bisa jadi panjang, muter-muter dulu,” ungkapnya.
Tekanan harga pangan juga terlihat dalam perkembangan inflasi tahun kalender. Hingga Oktober 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 5,69 persen dengan andil sebesar 2,24 persen terhadap inflasi Kalteng.
Komoditas beras menjadi penyumbang terbesar inflasi tahun kalender dengan andil 0,69 persen. Berikutnya daging ayam ras 0,34 persen, bensin 0,29 persen, ikan patin 0,14 persen, dan minyak goreng 0,13 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan Kalteng pada Oktober 2026 mencapai 5,19 persen dibandingkan Oktober 2025. Komoditas yang memberikan andil besar antara lain beras, ikan nila, bensin, cabai rawit, dan emas perhiasan.
BPS juga mencatat seluruh daerah yang menjadi wilayah penghitungan inflasi di Kalteng mengalami kenaikan harga. Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,87 persen, disusul Kabupaten Sukamara 5,60 persen, Kabupaten Lamandau 4,89 persen, dan Kabupaten Kotawaringin Timur atau Sampit 4,72 persen.
Meski tekanan harga terjadi pada berbagai komoditas, sejumlah barang dan jasa mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Pada Oktober, komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, angkutan udara, dan bawang merah.
Toto menegaskan, perkembangan harga kebutuhan pokok perlu terus dicermati, terutama memasuki November dan Desember yang menjadi periode penting menjelang akhir tahun.
Data BPS tersebut memperlihatkan bahwa persoalan inflasi di Kalimantan Tengah tidak hanya berkaitan dengan kenaikan harga di pasar, tetapi juga dipengaruhi kondisi produksi, pasokan, biaya pakan, cuaca, hingga kelancaran distribusi barang.

