MAHARATINEWS, Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kembali menjadi persoalan serius. Kondisi ini mendorong Tokoh Nasional asal Kaliman Prof. Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim meminta pemerintah memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak terus menjadi persoalan tahunan.
Menurutnya, pola penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah meluas. Pemerintah perlu memperkuat deteksi dini, pengawasan kawasan rawan serta memastikan lahan gambut tetap dalam kondisi basah saat musim kemarau.
“Karhutla ini selalu berulang setiap tahun. Jangan sampai kita semua seperti orang yang selalu masuk ke lubang yang sama. Setiap kemarau kita sibuk memadamkan api dan menangani asap, tetapi setelah itu persoalan kembali terjadi,” kata Habib Banua.
Data Pemerintah Provinsi Kalteng menunjukkan persoalan tersebut memang cukup besar. Hingga 21 Agustus 2026 tercatat 1.639 kejadian karhutla dengan 19.992 titik panas. Tim di lapangan juga telah menangani kebakaran pada ribuan hektare lahan.
Bahkan, sepanjang 1–18 Agustus 2026 saja tercatat 798 kejadian karhutla dengan luasan penanganan mencapai 2.824,42 hektare dan 14.659 titik panas.
Habib Banua menilai angka tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Penanganan tidak cukup dilakukan setelah muncul titik api, tetapi harus dimulai sebelum musim kemarau mencapai kondisi terburuk.
“Yang harus diperbaiki adalah sistem pencegahannya. Kita harus tahu titik rawan sebelum terbakar, menjaga gambut tetap basah dan menindak tegas mencabut izin perusahaan yang sengaja membakar,” ujarnya.
Ia juga menilai masyarakat perlu dilibatkan dalam sistem pengawasan. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, perusahaan, masyarakat dan relawan harus memiliki pola koordinasi yang jelas.
“Jangan menunggu asap mengepul baru bergerak. Kalau pencegahan dilakukan lebih awal, biaya dan dampak yang ditanggung masyarakat juga jauh lebih kecil,” katanya.
Bagi Habib Banua, karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Asap kebakaran juga berdampak langsung terhadap kesehatan, aktivitas ekonomi, pendidikan dan kualitas hidup masyarakat Kalteng. (perdi)





