MAHARATINEWS, Palangka Raya – Ribuan kepala keluarga petani di sejumlah wilayah Kabupaten Pulang Pisau disebut terdampak gagal panen. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang ditemukan saat pelaksanaan reses anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah di daerah pemilihan setempat.
Anggota Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Yohanes Freddy Ering, mengatakan reses merupakan agenda rutin untuk mengunjungi konstituen sekaligus menyerap langsung berbagai aspirasi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, kunjungan dilakukan di delapan titik yang berada di wilayah Pulang Pisau dan Kapuas.
Salah satu persoalan yang cukup menonjol ditemukan di kawasan Tambak Catur, termasuk Sidomulyo. Wilayah tersebut mayoritas dihuni masyarakat yang bekerja sebagai petani. Namun, sebagian menghadapi gagal panen yang diduga berkaitan dengan kondisi cuaca serta persoalan bibit.
“Kalau panennya sudah gagal, betul-betul jadi masalah serius untuk mereka,” kata Yohanes, Kamis (10/9/2026)
Menurut dia, gagal panen membuat sebagian masyarakat harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada warga yang memilih mencari pekerjaan di tempat lain, termasuk menjadi pekerja atau ikut menambang.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, kebutuhan pokok juga menjadi persoalan. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu turun tangan membantu masyarakat, tidak hanya melalui bantuan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mengatasi persoalan pertanian secara teknis.
“Perlu pemerintah turun tangan secara teknis, penyuluh untuk turun mengatasi masalah yang ada,” ujarnya.
Dukungan tersebut, kata Yohanes, dapat berkaitan dengan penggunaan bibit unggul, pupuk, sarana pertanian dan berbagai penunjang lainnya. Bantuan sembako juga dinilai diperlukan bagi masyarakat yang kehilangan penghasilan akibat gagal panen.
Sementara di wilayah Das Kapuas, khususnya Mentangai, aspirasi masyarakat banyak berkaitan dengan infrastruktur pendidikan. Sejumlah sekolah membutuhkan relokasi atau peninggian bangunan karena kerap tergenang saat musim hujan.
Persoalan lainnya adalah kekurangan guru, baik guru bidang studi maupun tenaga pengajar secara umum. Kondisi tersebut berkaitan dengan penyebaran guru yang belum merata.
Selain pendidikan dan pertanian, masyarakat di sejumlah wilayah juga menyampaikan persoalan air bersih. Meski demikian, Yohanes menyebut sebagian persoalan air bersih mulai teratasi melalui berbagai bantuan pemerintah. (neha)





