MAHARATINEWS, Palangka Raya – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya membutuhkan kecepatan memadamkan api. Persoalan yang lebih penting adalah memastikan kebakaran tidak terus menjadi siklus tahunan yang kembali muncul setiap musim kemarau.
Tokoh Nasional dari Kalimantan Tengah, Prof. Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim mempertanyakan sejauh mana strategi pencegahan yang dilakukan pemerintah mampu memutus siklus tersebut.
“Pertanyaannya sederhana, apakah tahun depan kembali terjadi karhutla? Kalau jawabannya iya, berarti ada sesuatu yang harus kita evaluasi secara serius dari sekarang,” kata Prof. Pangeran Syarif, dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026) malam.
Pertanyaan tersebut dinilai penting mengingat karhutla 2026 kembali menunjukkan angka yang besar. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, hingga 21 Agustus 2026 tercatat 1.639 kejadian karhutla dan 19.992 titik panas.
Tim di lapangan telah menangani kebakaran pada 4.499,21 hektare lahan. Sementara itu, analisis citra satelit menunjukkan estimasi luas terbakar mencapai 7.634,46 hektare.
Kondisi bahkan meningkat pada Agustus. Dalam periode 1–18 Agustus 2026 tercatat 798 kejadian karhutla, 14.659 titik panas dan luas penanganan mencapai 2.824,42 hektare.
Menurut Prof. Pangeran Syarif, data tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar laporan penanganan bencana.
“Jangan sampai kita bangga karena api berhasil dipadamkan, tetapi lupa bertanya mengapa api itu terus muncul di tempat dan waktu yang hampir sama setiap tahun,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah memperkuat pencegahan melalui pemetaan kawasan rawan, patroli dan deteksi dini, pembasahan gambut, kesiapan sarana pemadaman serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan yang terbukti dilakukan secara sengaja.
“Kalau ingin tahun depan berbeda, maka langkahnya harus berbeda mulai sekarang. Jangan menunggu kemarau datang, asap muncul, lalu kita kembali sibuk memadamkan api,” tegasnya.
Prof. Pangeran Syarif menilai keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika karhutla 2026 berhasil dikendalikan, tetapi ketika musim kemarau berikutnya masyarakat Kalteng tidak lagi menghadapi persoalan yang sama.
“Pertanyaannya bukan hanya bagaimana kita memadamkan karhutla tahun ini. Pertanyaannya, apakah tahun depan kita masih akan membicarakan karhutla yang sama?” pungkasnya. (perdi)





