MAHARATINEWS, Palangka Raya – Ucapan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” menjadi sorotan publik dan viral di media sosial. Namun, Agustiar menegaskan bahwa kalimat tersebut merupakan candaan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya persatuan di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Agustiar menjelaskan, pernyataan itu bukan dimaksudkan untuk memperkeruh keadaan atau meremehkan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Sebaliknya, ia ingin mengingatkan semua pihak agar tidak terus terjebak dalam perdebatan mengenai siapa yang salah.
“Lihat di mana-mana itu memperdebatkan, mempermasalahkan. Habis itu apa namanya? Siapa yang salah? Terus berdebat terus, ya kan? Enggak ada lagi waktu kita begitu,” kata Agustiar saat memberikan klarifikasi, di Kantor Gubernur setempat, Senin (12/10/2026) siang.
Menurutnya, situasi yang dihadapi Kalteng membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Perdebatan berkepanjangan justru berpotensi mengalihkan perhatian dari upaya mencari solusi atas persoalan yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Ia menekankan, persatuan harus dibarengi niat, kemauan, dan kesadaran bersama agar berbagai persoalan dapat diantisipasi dengan lebih baik.
“Yang hal begini semua elemen masyarakat itu ayo dan yang ada semua kita ada bersatu. Kalau kita bersatu kita kuat sehingga ada kebersamaan kita. Semua mudah mengantisipasi hal-hal begini. Tapi diiringi dengan niat dan kemauan dan kesadaran kita. Itu maksudnya. Kalau kita cerai-berai yang korban siapa?” ujarnya.
Agustiar kembali menegaskan bahwa ungkapan tersebut disampaikan dalam suasana bercanda. Ia mengaku tidak menyangka kalimat itu kemudian menjadi viral dan memunculkan beragam penafsiran.
“Jadi ada kebakaran begini samalah kadang-kadang kami bercanda sebenarnya, kami bercanda aja. Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi. Maksudnya bercanda,” kata Agustiar.
Ia juga menyinggung kemungkinan adanya pihak yang belum puas dengan hasil kontestasi politik. Namun, pernyataan tersebut tidak disertai penjelasan lebih lanjut mengenai siapa yang dimaksud.
Di tengah situasi karhutla, Agustiar mengingatkan bahwa kepentingan masyarakat seharusnya menjadi perhatian utama. Menurutnya, seluruh pihak perlu mengutamakan kerja sama daripada memperpanjang perselisihan.
Klarifikasi tersebut menempatkan anekdot “Bercerai kita kawin lagi” dalam konteks ajakan untuk menjaga kebersamaan. Pesan yang ingin disampaikan Agustiar, sebagaimana penjelasannya, adalah bahwa perbedaan dan perdebatan tidak boleh mengalahkan kebutuhan untuk bekerja bersama menghadapi persoalan yang dialami masyarakat.

